Asuransi Dalam Fikih Aliyah

Di madrasah-madrasah tingkat Aliyah kelas X semester genap, berdasarkan kurikulum 2013, pembahasan tentang asuransi lebih bersifat mendasar terkait kedudukan hukumnya. Namun belum ada penjelasan secara mendetail terkait sistem yang digunakannya.

Berikut adalah uraian tema asuransi dalam mata pelajaran Fikih di tingkat Aliyah ditambah penjelasan pembahasan oleh admin agar dapat dipahami lebih mendalam.

  • Pengertian Asuransi

Secara umum kata asuransi berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Insurance” yang artinya “jaminan”. Sedangkan menurut istilah ialah perjanjian pertanggungan bersama antara dua orang atau lebih. Pihak yang satu akan menerima pembayaran tertentu bila terjadi suatu musibah, sedangkan pihak yang lain (termasuk yang terkena musibah) membayar iuran yang telah ditentukan waktu dan jumlahnya.

Adapun tujuan asuransi secara umum adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan bersama melalui semacam iuran yang dikoordinir oleh penanggung (asuransi).

  • Pengertian Asuransi Dalam Islam

Dalam menerjemahkan istilah asuransi ke dalam konteks asuransi Islam terdapat beberapa istilah, antara lain takaful (bahasa Arab), ta’min (bahasa Arab) dan Islamic insurance (bahasa Inggris). Istilah-istilah tersebut pada dasarnya tidak berbeda satu sama lain yang mengandung makna pertanggungan atau saling menanggung. Namun dalam prakteknya istilah yang paling populer digunakan sebagai istilah lain dari asuransi dan juga paling banyak digunakan di beberapa negara termasuk Indonesia adalah istilah takaful.

  • Pembahasan Pengertian Asuransi

Pengertian Asuransi Dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Ketentuan hukum tentang asuransi terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Perasuransian.

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.(UU No.2/1992, Bab I, Pasal 1, ayat 1)

————–

Penjelasan:

Terjadinya akad perjanjian antara Tertanggung sebagai Nasabah dan Penanggung sebagai perusahaan asuransi. Bentuk perjanjian dari Tertanggung (Nasabah) berupa perjanjian pembayaran premi [dalam asuransi syari’ah disebut kontribusi] secara berkala yang ditentukan masa pembayarannya oleh nasabah *).

Sedangkan bentuk perjanjian dari Penanggung (Perusahaan) berupa pembayaran “resiko” dan “perencanaan masa depan” Nasabah yang dibuktikan dengan terbitnya Polis di setiap tahun.

Di antara contoh “resiko” yang terdapat dalam layanan Sun Life Syariah adalah sebagai berikut.

  1. Penyakit Kritis, dengan layanan rawat inap di beberapa rumah sakit melalui kerjasama dengan AdMedika.
  2. Cacat Tetap Total sehingga nasabah tidak produktif lagi secara finansial, maka pihak asuransi akan membayarkan kontribusi yang menjadi kewajiban nasabah hingga usia 65 dan/atau 88 tahun.
  3. Kematian karena kecelakaan, maka pembayaran asuransi diserahkan dalam bentuk waris kepada anggota keluarganya (ahli waris) berupa santunan asuransi dan jumlah dana (setelah ada pengurangan dari beberapa pembiayaan dan penambahan dari surplus underwriting [laba mudhorobah]) yang terkumpul dari kontribusi yang pernah dibayarkan oleh nasabah.
  4. Meninggal dunia, maka pembayaran diserahkan dalam bentuk waris kepada anggota keluarganya (ahli waris) berupa UP (Uang Pertanggungan) dan jumlah dana yang pernah terkumpul (setelah ada pengurangan dari beberapa pembiayaan dan penambahan dari surplus underwriting [laba mudhorobah]).

Sedangkan di antara contoh “perencanaan masa depan” yang menjadi layanan dari Sun Life Syariah adalah sebagai berikut.

  1. Persiapan dana pensiun sesuai dengan target rencana dari nasabah.
  2. Persiapan biaya pendidikan anak sesuai dengan target rencana nasabah.
  3. Persiapan dana untuk ibadah haji dan/atau umroh sesuai dengan target rencana nasabah.
  4. Penanaman investasi sesuai dengan target rencana nasabah.
  5. Proteksi asset sesuai dengan target rencana nasabah.
  6. Dan yang terbaru, Persiapan dana wakaf sesuai dengan target rencana nasabah untuk perbekalan pahala yang mengalir terus yang dapat dinikmati oleh nasabah di hari akhir kelak. Insyaalloh.

*) Ada juga perusahaan yang menentukan masa pembayaran bila perusahaan tersebut memiliki program khusus investasi, misalnya di Sun Life Syari’ah untuk program Fortune Plus…Nasabah cukup membayar kontribusi secara berkala selama 3 tahun dan Polis akan terus berlaku sampai dengan 12 tahun selama Nilai Dana Investasi cukup untuk membayar biaya-biaya yang timbul hingga Tahun Polis ke-12.
————–

Pengertian Asuransi Konvensional

suatu mekanisme pemindahan atau pelimpahan resiko dari seorang Tertanggung (Nasabah) kepada pihak Penanggung (Perusahaan Asuransi) dengan membayar premi secara berkala sehingga akad yang terjadi berupa akad mu’awadhoh (pertukaran) yang menggambarkan adanya transaksi jual beli

Di antara ciri yang utama dalam Asuransi Konvensional adalah sifat penjaminan resiko, yakni “transfer of risk” pengalihan resiko. Dengan demikian, arti Asuransi secara konvensional adalah suatu mekanisme pemindahan atau pelimpahan resiko dari seorang Tertanggung (Nasabah) kepada pihak Penanggung (Perusahaan Asuransi) dengan membayar premi secara berkala sehingga akad yang terjadi berupa akad mu’awadhoh (pertukaran) yang menggambarkan adanya transaksi jual beli.

Yang menjadi gambaran terjadinya transaksi jual beli (akad mu’awadhoh) dalam asuransi konvensional dapat dicermati dari pembayaran premi dan efeknya. Saat seorang nasabah membayarkan preminya secara berkala, dia seakan-akan membeli “resiko” yang di antaranya ada yang belum pasti, misalnya kecelakaan atau penyakit kritis. Ketika dia sebagai nasabah ternyata tidak mengalami “resiko” yang dimaksud, maka dana premi sudah menjadi milik hak mutlak perusahaan dari akad mu’awadhoh itu. Inilah yang disebut dengan akad gharar (sesuatu yang pasti berupa pembayaran sejumlah uang ditukar/dibelikan untuk sesuatu yang belum pasti).

Pengertian Asuransi Syariah

suatu mekanisme berbagi resiko di antara para nasabah (tertanggung) yang pengelolaannya diamanahkan kepada suatu perusahaan asuransi syariah (penanggung) dan dana yang digunakan untuk berbagi resiko ini diperoleh dari kontribusi tabarru’ para nasabah

Yang menjadi ciri khas penjaminan resiko dalam asuransi syariah adalah “sharing of risk” berbagi resiko, bukan mengalihkan resiko. Dengan demikian, arti asuransi dalam sistem syariah adalah suatu mekanisme berbagi resiko di antara para nasabah (tertanggung) yang pengelolaannya diamanahkan kepada suatu perusahaan asuransi syariah (penanggung) dan dana yang digunakan untuk berbagi resiko ini diperoleh dari kontribusi tabarru’ para nasabah.

  • Perbedaan Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

a. Asuransi Konvensional

Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional, di antaranya adalah:

  1. Akad asuransi ini adalah akad mu’awadhah, yaitu akad yang di dalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya.
  2. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada waktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil.

b. Asuransi Syariah

  1. Asuransi syariah dibangun atas dasar ta’awun (kerja sama ), tolong menolong, saling menjamin, tidak berorientasi bisnis atau keuntungan materi semata.
  2. Asuransi syariah tidak bersifat mu’awadhoh, tetapi tabarru’ atau mudhorobah.
  • Manfaat Asuransi Syariah

a. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota.

b. Implementasi dari anjuran Rasulullah Saw. agar umat Islam salimg tolong menolong.

c. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat.

d. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak.

e. Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu, dan biaya.

f. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.

g. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad.

  • Hukum Asuransi Dalam Islam

Ada beberapa status hukum tentang asuransi,yaitu:

a. Haram

Pendapat ini dikemukakan oleh Yusuf Qaradhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth’i. Alasan-alasan yg mereka kemukakan:

1) Asuransi sama dengan judi.

2) Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti.

3) Asuransi mengandung unsur riba/renten.

Asuransi mengandung unsur pemerasan karena pemegang polis apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya akan hilang premi yang sudah dibayar atau dikurangi.

4) Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.

5) Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai.

b. Mubah / Boleh

Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abdul Wahab Khalaf, Mustafa, Akhmad Zarqa, Muhammad Yusuf Musa dan Abdul Rahman Isa . Mereka beralasan :

1) Tidak ada nash yang melarang asuransi.

2) Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.

3) Saling menguntungkan kedua belah pihak.

4) Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum sebab premi-premi yang terkumpul dapat diinvestasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan.

5) Asuransi termasuk akad mudharabah.

6) Asuransi termasuk koperasi.

7) Asuransi dianalogikan dengan sistem pensiun seperti Taspen.

c. Syubhat

Alasan golongan yg mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan halal atau haramnya asuransi tersebut.

Pada dasarnya, dalam prinsip syariah hukum-hukum muamalah (transaksi bisnis) adalah bersifat terbuka, artinya Allah Swt. dalam Al-Qur’an hanya memberikan aturan yang bersifat garis besarnya saja.

Selebihnya adalah terbuka bagi ulama mujtahid untuk mengembangkannya melalui pemikirannya selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis. Al-Qur’an maupun Hadis tidak menyebutkan secara nyata apa dan bagaimana berasuransi. Namun bukan berarti bahwa asuransi hukumnya haram, karena ternyata dalam hukum Islam memuat substansi perasuransian secara Islami sebagai dasar operasional asuransi syariah.***

Ditandai dengan:     , , ,

Artikel Yang Berkaitan

Tulis Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Yang wajib diisi bertanda *

Link Serumpun

Silahkan berkunjung ke website kami…

TERIMA KASIH

ATAS KUNJUNGAN ANDA

جَــزَكُمُ اللهُ خَيْرًا جَــزِيْلاً

solusi masa depan anda